Kebangsa(t)an Nusantara Kebanggaan
Artikel ini telah diunggah di akun Instagram @fanus.id
Di ujung tenggara benua Asia, barat Samudra Pasifik, dan timur laut Samudra Hindia, bertenggerlah belasan ribu pulau. Itulah dirimu, sebuah kepulauan yang membentuk komunitas. Banyak orang mengira bahwa komunitas seraksasa dirimu pastilah tersusun dari beragam komunitas otonom dibawahmu. Tapi, ternyata tidak.
Bhinneka tunggal ika “berbeda-beda, tetapi satu juga”, itulah semboyanmu, semboyan yang bukan cuma omon-omon belaka. Bayangkan saja, 280-an juta orang yang terbagi ke dalam belasan ribu pulau, ribuan kelompok etnis, ratusan bahasa, 6 agama besar ditambah berbagai kepercayaan lokal, belasan wilayah imperium dan ratusan kerajaan kecil yang pernah berkuasa sepanjang sejarahmu, ribuan ragam makanan, ratusan ribu ragam satwa, hingga ribuan tradisi adat yang saling berbeda, semua mampu bersatu di bawah naunganmu.
Orang bertanya-tanya, bagaimana dirimu bisa ada sebagai satu kesatuan dalam keberagaman yang begitu masif? Tentunya, segala persatuan, kesatuan, asosiasi, atau komunitas pastilah memiliki alasan pemersatu masing-masing. Adapun dirimu, tersatukan oleh nasib sejarah yang sama. Semua konstituen dalam dirimu merasakan kepahitan dan kebrutalan penjajahan yang sama hingga kemudian, mereka bersatu di bawah satu komunitas, satu bendera, satu bahasa, dan satu konstitusi.
Kini, penjajah itu sudah tidak ada, namun kesatuan itu masih tetap ada. Sudahkah kehidupan yang dirasakan konstituenmu berkembang menjadi lebih baik dan beradab dibandingkan sebelum kepergian penjajah itu? Lihatlah sekarang, dirimulah yang terkadang berlagak menggantikan peran penjajah dalam menyengsarakan konstituenmu. Kemudian mengecap mereka yang tidak setuju dengan caramu dan menginginkan perbaikan sebagai musuh bersama dengan label “antek asing”.
Dulu nekolim, komunis, Orba, dan sekarang apa lagi? Belum habiskah tintamu dalam mengecap mereka yang beroposisi? Neolib? Kapitalis? Antek asing? Tidak mampukah dirimu eksis tanpa musuh bersama?
Kini, 81 tahun sudah usiamu. Adakah perbedaan dan kemajuan yang dirasakan konstituenmu sebelum dirimu lahir? Jangan sampai mereka merasa kelahiran komunitas ini adalah bencana akibat ulah dirimu sendiri. Mereka semua sejatinya sangat mencintaimu dengan setia, namun dirimulah yang berselingkuh dengan beragam kepentingan elit dan golongan lainnya.
Ibarat Kampung Durian Runtuh, hanya ada di cerita fiksi. Kelakuanmu bukan hanya selingkuh hingga lahir anak haram konstitusi.
Ibarat tempat liburan yang asik, cobalah makan di pinggir pantai. Lahir sudah hasil selingkuh politik, jangan heran mereka minta cerai
Jadi, siapa bangsa(t) yang bajingan di sini?
Komentar
Diperiksa redaksi sebelum tampil.
Belum ada komentar yang tampil. Jadilah yang pertama menulis.
Tulisan lain di Sastra
Lupa Bercermin
Tulisan ini telah diunggah sebelumnya di https://informatikamesir.net/lupa-bercermin/
M Saladin Ghaza4 menit baca